Temu Administrator Muda Indonesia 2015

Temu Administrator Muda Indonesia (ADMI) merupakan pertemuan setiap tahun sejak tahun 2004 yang diikuti oleh perwakilan mahasisiswa Administrasi Negara (AN) atau Administrasi Publik (AP) di seluruh Indonesia. Namun sebenarnya, acara temu mahasiswa AN ini bukanlah forum pertama yang dilakukan. Sebelumnya terdapat suatu organisasi yang menjadi wadah perkumpulan mahasiswa AN. Sayang sekali sejak awal berdirinya forum mahasiswa AN dan ADMI hingga sekarang, dokumentasi dan informasi sejarah mengenai dua forum tersebut sangat minim.

 

Persatuan Nasional Mahasiswa Administrasi Negara

Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, terbentuk suatu organisasi mahasiswa AN yang bernama Persatuan Nasional Mahasiswa Administrasi Negara. Hingga saat ini belum terlacak secara pasti kapan didirikannya organisasi tersebut, namun apabila diperkirakan organisasi ini didirikan tahun 1980. Salah satu pembesar organisasi tersebut adalah Bapak Priyo Budi Santoso.

Persatuan Nasional Mahasiswa Administrasi Negara dalam perjalanannya mengalami banyak hambatan, salah satunya adalah terselip kepentingan politik yang masuk ke dalam organisasi. Banyak kepentingan politik yang di bawa oleh pembesar-pembesar organisasi tersebut. Seperti contoh background Bapak Priyo yang sejak awal sebagai kader dari Himpunan Mahasiswa Indonesia sekaligus sebagai kader partai Golkar. Gaung suara kritis organisasi ini pun sebenarnya kurang terdengar. Hingga saat ini sebenarnya belum ada berita atau informasi yang mengatakan bahwa organisasi ini vakum atau bubar, namun setelah Orde Baru jatuh Persatuan Nasional Mahasiswa Administrasi Negara tidak terdengar lagi keberadaannya

 

Administrator Muda Indonesia

Setelah sekitar lima tahun mahasiswa AN tidak memiliki satu perkumpulan resmi, tahun 2004 digagaslah pembentukan ADMI. Bertempat di Universitas Padjajaran dengan penggagas perwakilan mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, dan Universitas Mulawarman dibentuk suatu wadah perkumpulan mahasiswa tanpa hierarki keorganisasian. Alasan yang dipertahankan hingga saat ini ADMI tidak memiliki hierarki keorganisasian atau tata kelola baku organisasi adalah tidak menginginkan kejadian pertarungan politik intern dalam Persatuan Nasional Mahasiswa Administrasi Negara terulang.

Pembentukan ADMI bertujuan sebagai wadah perkumpulan dan forum komunikasi ilmiah dalam upaya peningkatan kompetensi mahasiswa. Pada mulanya ADMI dirancang terlaksana dua kali dalam setahun, yakni Pra-ADMI dan temu ADMI. Pada pertemuan Pra-ADMI para anggota akan membahas mengenai apa saja persiapan yang diperlukan dalam terselenggaranya ADMI. Namun, entah dimulai tahun berapa, pertemuan Pra-ADMI dihapuskan dan hanya ada satu kali pertemuan yakni pada saat temu ADMI.

Dalam perkembangannya terjadi beberapa kritik terhadap isi kegiatan ADMI. Selama enam tahun (2004-2010) ADMI dianggap hanya forum kumpul-kumpul dan jalan-jalan saja, kurang ada hasil nyata dan tujuan kegiatan forum ini belum jelas arahnya. Karena ketidakjelasan forum ADMI, maka tahun 2005 perwakilan AN UGM memutuskan untuk keluar dalam daftar keanggotaan ADMI. Selama lima tahun lepas sebagai anggota ADMI, tahun 2010 AN UGM kembali menjadi anggota ADMI sekaligus sebagai penggagas rancangan perubahan tubuh ADMI. ADMI mengalami perubahan desain dan terbagi menjadi tiga kluster: (1) Riset yang beranggotakan UGM, Unsoed, Universitas Parahyangan, Universitas Gajah Putih, UIN, Universitas Indraprasta, dan Universitas Tadulako; (2) Keilmuan yang beranggotakan Universitas Brawijaya, Universitas Jember, Universitas Airlangga, STIA Tasikmalaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Padjajaran, UPN Yogyakarta, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa; (3) Media Informasi beranggotakan Universitas Negeri Solo dan Universitas Diponegoro. Ketiga kluster ini berjalan secara terpisah, seperti misal bagian Media dan Informasi berkontribusi sebatas dalam publikasi acara sebelum, hari acara, dan hasil setelah acara berlangsung. Selain mengalami pembentukan kluster, seluruh anggota ADMI yang hadir dalam pertemuan juga diwajibkan membawa satu hasil riset yang akan dipresentasikan bersama dan pada akhirnya temu ADMI akan menghasilkan satu usulan perubahan bagi pemerintah.

Desain kluster yang mambagi ADMI menjadi tiga bagian tidak berlangsung lama. Tahun 2012 terjadi peleburan kluster dengan dorongan keinginan universitas kluster Media dan Informasi yang ingin turut mengemban tanggungjawab dalam hal riset dan kelimuan. Peleburan kluster tersebut dimaksudkan agar semua anggota ADMI mengemban tugas sebagai anggota yang berfungsi sebagai  kajian riset dan kajian keilmuan. Sementara fungsi Media dan Informasi dipengang secara bergiliran oleh tuan rumah acara ADMI.

Keanggotaan ADMI setiap tahunnya dapat berubah-ubah. Tidak ada ketentuan baku yang mengatur keanggotaan tersebut. Secara mudahnya keanggotaan ADMI didasari atas keinginan semata. Seperti contoh UGM dan Universitas Mulawarman sebagai penggagas ADMI pernah suatu waktu keluar dari keanggotaan ADMI dengan alasannya masing-masing. Lalu beberapa tahun kemudia dua universitas ini kembali bergabung dalam keanggotaan ADMI.

 

Kritik ADMI

Terdapat berbagai kritikan tertuju pada jalannya ADMI yang telah 11 tahun berjalan. Setiap tahunnya seperti menjadi bahan pembicaraan rutin dalam rapat pleno, selalu ada tuntutan dari beberapa angota ADMI agar ADMI mempunyai struktur serta kelengkapan baku organisasi. Ketakutan-ketakutan pengulangan tumpang-tindih kepentingan politik yang dialami ADMI di tahun 2004 alangkah baiknya apabila dihilangkan. Terdapat perubahan konteks keadaan yang terjadi sejak tahun 2004 hingga tahun 2015. Apabila pada awal pembentukannya disepakati tidak ada unsur baku organisasi agar menghindari kepentingan politik intern sepertinya layak kita pahami. Namun, apabila hingga sekarang ketakutan tersebut masih menghantui, sangat lah tidak relevan. Abu-Abu nya posisi ADMI seperti menjadi penghambat dalam keberlangsungan hidup organisasi tersebut. ADMI apabila disebut organisasi sebenarnya layak, karena memiliki status anggota dan status bukan anggota. Namun apabila di setiap tahunnya ADMI selalu berjalan mengambang, maka hal itu akan menghambat kinerjanya. Penghambatan kinerja itu dapat dilihat salah satunya dari tidak ada ketentuan patokan kapan ADMI terlaksana disetiap tahunnya. Penyelenggaraan ADMI dilakukan sesuai dengan kesiapan universitas tuan rumah, dan hal tersebut yang menyebabkan semua keperluan berjalan tidak jelas.

Problem yang banyak terjadi di mayoritas anggota ADMI berasal dari pesertanya. ADMI bukan merupakan forum kumpul “lembaga” AN namun forum kumpul “mahasiswa” AN. Seringkali perwakilan Universitas hanya berasal dari elite-elite Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) saja. Alhasil mahasiswa yang ingin ikut ADMI namun tidak menjadi anggota HMJ tidak bisa turut serta. Terkadang hal ini menimbulkan suatu kecemburuan sosial.

Follow-up temu ADMI dianggap tidak berfungsi. Hasil kerja dari pertemuan yang mengumpulkan banyak riset tidak dilakukan publikasi. Sangat disayangkan apabila acara temu mahasiswa AN se-Indonesia yang tentunya memakan dana tidak dimanfaatkan secara maksimal dalam hal output dan publikasi output. Upaya publikasi yang dilakukan oleh ADMI sangatlah minim, hingga saat ini ADMI hanya mempunyai sebuah blog yang sudah nonaktif. Blog yang nonaktif tersebut dapat dilihat aktivitas admin yang terakhir meng_input data ADMI pada tahun 2004., atau pada saat ADMI didirikan. Selain masalah publikasi, bobot dari output temu ADMI pun harus ditinjau kembali. Sangat kurang berguna apabila output ADMI hanya sebatas pada pengawalan isu dengan sudut pandang yang sangat “biasa”. Idealisme dan rasa mahasiswa dalam hal ini harus digunakan dan dipegang kuat. Apabila cara ADMI dalam mengungkap suatu isu hanya sebatas “biasa”, maka posisi tawar output pun menjadi rendah.

 

Harapan untuk ADMI

Harapan terus digantungkan mahasiswa AN Indonesia kepada ADMI, salah satunya dari delegasi universitas yag pernah berpartisipasi. Media Wahyudi Askar (delegasi ADMI AN UGM tahun 2010 sekaligus penggagas desain kluster ADMI) berharap agar ADMI mempunyai tindak lanjut yang lebih nyata dibanding sekedar konferensi dan pemaparan riset. Menurutnya ADMI dapat melakukan banyak perkembangan dimulai dari kerjasama luar negeri, pengembangan website, membuat community development, dan lain-lain. Selain itu Miftah Sayid Persada (delegasi ADMI AN UGM tahun 2012&2013) mengharap agar ADMI tidak terjebak pada kekhawatiran masa lalu. Keadaan terus berubah dan sesuaikan jalannya organisasi dengan konteks lingkungan yang mempengaruhi. Selain itu Miftah juga berharap agar delegasi ADMI tidak sebatas hanya elite HMJ semata, HMJ diharapkan dapat mempublikasikan kepada teman-teman mahasiswa sehingga nantinya delegasi ADMI tidak mayoritas berasal hanya dari elite HMJ. Harapan diucapkan lagi dari Uma Amalia yang tahun ini mengangkat riset “Potensi perikanan dan kelautan Rembang dalam menghadapi MEA” (delegasi ADMI tahun 2015) mengatakan “Semoga output ADMI kali ini dapat dipublikasi secara maksimal”. (Ashilly Achidsti)

 

Narasumber       : Miftah Sayid Persada (delegasi ADMI tahun 2012&2013)

: Media Wahyudi Askar (delegasi ADMI AN UGM tahun 2010 sekaligus penggagas desain  kluster ADMI)

: Uma Amalia (delegasi ADMI tahun 2015)

 

(Ashilly,2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *