Opini #1 Politik Lipstik

BADRUL

Ah orang itu, pake-pake lipstik tebal sekali, tidak disini, tidak disana,

lipstik itu seakan tak beranjak dari bibirmu, bikin aku muak saja.

Kau pikir aku jadi orgasme meilhatnya. Kau pikir aku kan tertarik melihatmu berias seperti itu.

Yah aku tambah muak malah. Tidak malam tidak siang.

Hai pemakai gincu tebal! Apa yang kau cari? Kau terus saja menggerogoti bibirmu dengan cara mempertebal gincumu itu, sadarkah kah kau terlihat sibuk memperindah gincumu dari pada melayani yang telah membuatmu ingin bergincu. Hai pemakai lipstik !

(Sang Sing Sung. Lipstikmu terlalu tebal :2012)

Politik Lipstik

Suatu siang di ruang BA 203 kampus fisipol ugm, saya heran semakin kesini semakin banyak mahasiswi-mahasiswi yang memoles bibirnya dengan lipstik. Mereka berlipstik dengan berbagai varian warna, ada yang merah merona ada juga yang merah jambu. Ada yang tebal dikombinasikan dengan bedaknya, ada yang memasangnya dengan tipis saja, aw badai betul. Tunggu dulu jangan terlalu sentimen, disini saya tidak mau mencibir mereka yang bergincu, mereka bergincu dengan motif tersendiri. Ada yang tidak terlalu pede dengan penampilannya, untuk menutupi itu sehingga dia memutuskan untuk berlipstik. Ada juga yang berlipstik untuk terlihat sexy. Ya meskipun tak jarang ada orang berlipstik bukan membuatnya tambah cantik tapi malah kelihatan tambah nggilani karo meddeni. Ah, itu hak masing-masing lah, saya tahu wanita kodratnya ingin tampil menarik.

Berbicara soal lipstik tentu saja fungsinya adalah membuat wajah yang tampak kusam, kurang badai menjadi cerah dan menarik. Menurut Heidegger lipstik dan kecantikan itu bagian dari esensi manusia dan tak bisa mencapai eksistensi manusia seutuhnya.Oleh karena itu lipstik dinilai hanya akan memberikan kemasan kecantikan luar belaka yang temporer dan teramat mudah pudar oleh situasi. Lantas apa hubungannya politik dengan lipstik begitu?.Dalam berpolitik kita tak boleh ketinggalan untuk berlipstik. Apakah politik lipstik itu?politik lipstik merupakan sebuah siasat politik yang digunakan layaknya fungsi lipstik. Yakni untuk memberikan polesan citra ‘cantik’ bagi pemakainya. Padahal apa yang tampak cantik dari luar belumtentu didalamnya juga cantik, bisa juga biasa sajaa bahkan bisa jadi busuk. Cantiknya pemakai lipstik belum tentu akan cantik pula dengan tanpa lipstik.

Setidaknya presiden kita saat ini pandai sekali merias wajahnya tampak menarik dengan ‘lipstik’.Ya sejak awal jokowi boomingyakni saat menjabat sebagai walikota solo dia berlipstik dengan gaya blusukan dan mobil esemkanya. Sontak kelihaiannya dalam berlipstik inimembuatnya menjadi media darling. Kemanapun geraknya menjadi sorotan media. Sehingga namanya mulai terkenal di seantero negeri. Hingga membuatnya duduk di kursi gubernur DKI. Sampaiakhirnya dapat duduk di istana negara seperti ini. Patut diakui faktanya karir politiknya tak lepas dari kepandaiannya dalam melakukan politik lipstik.

Masih soal jokowi yang melakukan politik lipstik. Karir politiknya tak akan menjulang seperti sekarang jika tanpa sorotan media. Media berperan sangat besar membuat wajah Jokowi yang telah berlipstik tadi menjadi tambah badai, media diibaratkan seperti memberikan ‘susuk’ cantik pada Jokowi sehingga membuat publik makin tertarik padanya.

Agak sulit memang melihat wajah asli jokowi tanpa ‘lipstik’. Tapi, baru-baru ini lipstik yang dipakai jokowi mulai sedikit luntur. Kasus pengangkatan BG yang merupakan pesanan mbok mega menjadi contohnya betapa lipstik jokowi mulai luntur. Kemudian pengangkatan Jaksa Agung yang ditengarai merupakan pesanan Om Brutus. Ada lagi fenomena yang membuat lipstik jokowi mulai luntur. Kasus penyerahan bantuan 1099 traktor ke petani Ponorogo misalnya. Traktor tersebut hanya menjadi pajangan saja agar saat di liput media, Jokowi bisa terlihat ‘cantik’. Dalam kasus tersebut Jokowi di liput dengan memberi sambutan dan berencana akan memberikan traktor tersebut pada petani ponorogo sebagai bantuan pemerintah untuk swasembanda pangan. Miris! traktor tadi cuma menjadialat PHP bagi petani, dan pada akhirnya setelah upacara simbolik yang dilakukan Jokowi traktor itu ditarik kembali oleh pemerintah.

Melampaui Pesimisme

Apa yang harus kita lakukan kemudian? Tugas kita adalah menuntut Jokowi untuk berhenti berlipstik, dan kemudian fokus bekerja untuk kepentingan rakyat, sebagaimana yang dijanjikannya pada masa kampanye lalu. Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Jokowi. Mulai dari menjamin harga sembako yang murah. Penegakan hukum yang tegas. Persoalan pemberantasan Korupsi. Sampai bisikan para Mafia. Serta kasus yang menjadi persoalan publik lainnya. Semua itu merupakan kerjaan yang berat yang harus diatasi, ketimbang menyibukkan diri dengan berlipstik agar citranya di masyarakat tidak buruk.Rakyat tak butuh citra baik yang mencerminkan kemunafikan pemimpinya itu. Yang dibutuhkan rakyat sekarang adalah kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat, itu saja.

Tapi entah mengapa saya tidak terlalu optimis kepada rezim sekarang. Saya muak dengan semakin banyaknya politisi yang berlipstik, mereka yang dapat kepercayan rakyat untuk member solusi untuk negeri ini malah menambah masalah bangsa, ditambah lagi dengan kondisi negara ini yang semakin hari semakin mengalami kemunduran. Seiring dengan semakin dewasanya saya semakin pesimis pula dengan keberlangsungan negara ini. Kadang saya berpikir sambil naik motor begitu, apa yang salah dengan negeriku yang kucinta ini? Dititik mana negara ini melakukan kesalahan yang fatal sehingga terjebak pada situasi yang membuat negara ini tidak maju-maju dan cenderung mundur?.Kadangkala terbersit dalam pikiran saya bahwa negara ini sebaiknya dihancurkan. Atau semacam diinstal ulang begitu. Sebegitu muaknya saya terhadap negara ini. Sampai terbersit pemikran yang cenderung radikal tersebut. Semakin hari saya semakin pusing mikir negara.

Jujur kepesimisan saya pada negara ini bertambah ketika negara ini dibandingkan dengan negara lain yang sudah lebih maju. Negara lain bisa maju kenapa negara ini tidak?, untung saja saya follow Twitter GNFI yang setidaknya mengurangi kepesimisan saya pada negara ini. Akan tetapi itu tidak cukup. Setiap kontent-kontent tweetnya hanya mampu membuat saya orgasme. Jadi apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus pindah ke negara lain yang sudah menjadi “Walfare State”? ah saya sebenarnya pingin, Ah tetapi saya tidak setega itu meninggalkan negara yang memberikan saya akta kelahiran dan KTP ini, Apakah saya harus mengikuti acaranya Mario Teguh agar tak pesimis terus, atau mendaftar menjadi anggota TNI yang ultra nasionalis serta sangat teguh memegang dokrtin “NKRI Harga Mati” “Jangan tanyakan apa yang negara berikan pada kita, tapi tanyakanlah apa yang mampu kita perbuat pada negara”. Mungkin kalau saya tarik kebelakang kepesimisan saya ini disebabkan gara-gara kurang menjiwai mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Tiap hari saya semakin dibingungkan dengan suatu pertanyaan yang bisa dibilang sedikit menyiksa, pertanyaan itu simple, yaitu tentang bagaimana agar saya tidak pesimis dengan kondisi negara seperti saat ini. Tampaknya mulai sekarang saya harus berlipstik agar dapat menutupi wajah saya yang semakin suram gara-gara dihantuin dengan kepesimisan akan tentang negara ini, menjadi tampak lebih cerah dan badai seolah saya memancarkan wajah riang nan penuh keoptimisan akan kondisi negara ini kedepan. Siapa tau dengan saya berlipstik secara konsisten dapat membuat saya melampaui kepesimisan saya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *