Opini #2 Dilema Kebungkaman yang Melebam

oleh Uma Amalia 

Pergerakan kehidupan di Indonesia sangatlah dinamis, dengan permasalahan permasalahan yang kini kian ramai dibicarakan menunjukkan bahwa negeri ini masih hidup dan bernafas. Namun sayangnya, ketika kita menyoroti, kedinamisan yang terjadi bukanlah menuju pada sumbu kehidupan yang lebih baik, namun malah membuat dilema semakin melingkupi berbagai elemen yang akhirnya diam membungkam dan tak bergerak. Hingga saat ini perubahan perubahan signifikan belum mampu dirasakan dapat membawa perubahan kepada masyarakat untuk hidup lebih sejahtera. Para penguasa yang cenderung bungkam terhadap kebenaran kebenaran yang harus diungkap dan masyarakat yang terbagi dalam beberapa kelompok antara mereka yang memilih diam, mereka yang mudah dimobilisasi untuk kepentingan sekelompok orang, maupun mereka yang benar benar bisa menilai dari dua kacamata yang berbeda, semuanya berjalan sporadis tak dapat seiring dan menyatukan langkah. Semua hal tersebut, apabila dibiarkan berjalan masing masing tidak akan membawa Indonesia kedalam perubahan yang lebih baik dan harmonis.

Berbicara mengenai dilema yang terjadi dalam masing masing jiwa terutama dalam jiwa penguasa membuat mereka lamban dalam mengambil sebuah keputusan dan tindakan. Tarik menarik antar beberapa kelompok kepentingan yang mengelilingi membuat mereka tidak bisa secara cepat dan jernih memutuskan. Sehingga kebanyakan dari mereka memilih untuk membungkam sesaat dan hanya menyaksikan gejolak yang timbul diantara masyarakat. Seperti yang dapat kita lihat pada dilema yang ada dalam diri Jokowi yang tidak segera mengambil sikap dan keputusan untuk menyelesaikan kemelut yang ada diantara KPK vs POLRI yang akhir akhir ini hangat memenuhi atmosfer Indonesia. Dalam posisi tersebut seolah olah Jokowi susah dalam mengambil keputusan dan takut dalam mengambil tindakan. Tarik ulur dari banyak kelompok kepentingan membuat beliau dilema dalam menentukan posisi berdiri. Seperti yang dikatakan oleh I Putu Gede Ary Sutha dan Soebowo Musa dikutip dari Buku Change karya Rhenald Kasali bahwa sulitnya pengambilan keputusan di negeri ini didorong oleh perasaan was was, rasa takut, serta kepicikan orang orang yang tak berani memikul tanggung jawab. Rasa dilema yang luar biasa tersebut muncul akibat skenario drama para penguasa negara yang sulit untuk kita pahami dan mengerti sebagai lapisan bawah yang tak banyak tahu mengenai isi nurani mereka.

Namun, harus dipahami bahwa dilema yang menciptakan kebungkaman tersebut telah menimbulkan keresahan dan rasa was was banyak kalangan masyarakat. Legitimasi penuh yang  diberikan oleh rakyat kepada Jokowi yang digadang gadang sebagai ksatria piningit sedikit demi sedikit telah terkikis. Harapan harapan dalam benak masyarakat luas yang pada mulanya mulai tercerahkan sekarang berganti dengan amarah dan anggapan bahwa Jokowi telah gagal memikul amanah dalam memimpin dan memberi perubahan pada bangsa padahal baru sebiji jagung usia jokowi dalam menerima tampuk kepemimpinan tersebut. Media masa mempunyai peranan penting dalam menampilkan semua permasalahan yang terjadi. Peranan yang dipegang dalam menggiring opini publik dan menciptakan konstruksi terhadap realitas sosial pada masa ini sedikit banyak menimbulkan dilema dalam diri masyarakat. Banyak pula pihak yang mempunyai pemikiran tendensius terhadap suatu kelompok kepentingan berupaya untuk memobilisasi masyarakat demi mewujudkan apa yang mereka inginkan yang pada akhirnya membuat masyarakat terombang ambing tidak jelas dan mengikuti saja arus yang tercipta.

Karakter pejuang yang dimiliki bangsa ini mengalami degradasi yang tajam, budi luhur yang dimiliki semakin lama semakin memudar digantikan dengan kebungkaman terhadap setiap kebenaran yang harus diungkap yang akhirnya menimbulkan lebam dalam kulit bangsa yang tidak bisa dibiarkan. Kecenderungan masyarakat Indonesia yang selalu menuntut dan menyalahkan pemerintah merupakan budaya yang buruk apabila diterus teruskan. Sedang dalam diri mereka sendiri tidak ada upaya untuk melakukan instrospeksi dan berjuang mandiri. Posisi seperti ini membuat pemerintah sulit untuk merealisasikan kebijakan apabila masyarakat selalu bersikap seperti itu. Kebanyakan masyarakat menjadi bungkam ketika mereka ditanya apa yang benar benar diinginkan dengan analisis yang pasti. Kecenderungan masyarakat untuk tetap berada dalam zona nyamannya dan enggan untuk mencoba sesuatu yang penuh dengan perjuangan. Kebanyakan mereka bertahan dengan pemikirannya yang sempit dan selalu menuntut dan menjelek jelekkan pemerintah tanpa menyadari bahwa dia sendiri belum sepenuhnya berjuang untuk memperbaiki hidupnya. Seperti yang dikatakan oleh Rhenald Kasali bahwa “orang orang yang berfikiran sempit tidak akan bisa melihat kebenaran secara lebih murni. Karena biasanya orang orang tersebut hanya mempercayai jalan pikirannya sendiri yaitu jalan pikiran yang sudah membentuknya selama bertahun tahun. Orang yang berfikiran sempit akan selalu menciptakan halangan halangan untuk perubahan dengan alasan untuk kebaikan menurut versi mereka sendiri.

Dalam masa yang mulai penuh dengan gejolak seperti saat ini, ketika banyak sekali kecurangan kecurangan yang terjadi, hukum yang mulai membengkok dan demokrasi yang memberi kedaulatan kepada rakyat mulai tergeser oleh kelompok kepentingan, moral yang mulai menyublim, perlulah untuk menciptakan suatu habitus demokrasi dimana masyarakat yang mempunyai cara berfikir terbuka, memiliki toleransi yang tinggi, jujur dan mampu berlaku adil. Habitus ini akan tumbuh ketika antara publik dan para pejabat memegang teguh apa yang dinamakan etika. Rakyat Indonesia sebagai konstituen harus meninggalkan jauh kebungkaman yang melebam selama ini untuk selalu bersinergi dengan pemerintah dan menuntut akuntabilitas dari para pemangku jabatan sehingga rakyat bisa menjadi konstituen yang kompeten. Rakyat mampu merumuskan kepentingan mereka, menjadi lebih vokal, mengorganisir diri dan menentukan sarana yang efektif untuk digunakan dalam merumuskan, melaksanakan serta mengevaluasi kebijakan yang diinginkan. Meninggalkan kebungkaman yang melebam yang selama ini menjadi kesakitan bagi bangsa dan perubahan Indonesia.

Generasi yang ganjil ini, hidup diantara tertidur dan terjaga. Didalam tangannya, mereka menggenggam tanah masa lalu dan buih buih masa depan. Ungkapan kahlil gibran yang semestinya menuntut kita para generasi penerus bangsa untuk terus berfikir,mengkritisi zaman serta memposisikan diri. Tidak ada peradaban yang menimbulkan kenyamanan kecuali terhadap ketidaknyamanan yang mampu kita kelola dengan baik. Menjadi generasi seperti apa kita seharusnya adalah sebuah pilihan yang kita ciptakan melalui konstruksi yang ada dalam fikiran kita.

 

Daftar Pustaka

Kasali, Rhenald. “Change”. (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005)

Makalah dari Haryatmoko dengan judul “Mengoreksi Demokrasi, Membangun Institusi, Warga Negara Kompeten dan Membatasi Kekuasaan Partai Politik”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *