[OPINI] Belenggu Ujian Nasional

 

ujian-nasional2

                                                                                                     sumber : pemerintah.net

oleh Tunjung Atika          

Ujian nasional selalu menjadi momok para siswa di Indonesia. Apalah yang harus ditakutkan dari UN kawan? Apakah UN dapat mematikanmu? Apakah UN menghilangkan imanmu sehingga kau kehilangan Tuhan? Tidak! Kau masih bisa sukses, kau masih bisa masuk surga, kau masih bisa melakukan segala kegiatan yang diinginkan. Lalu mengapa harus kau takutkan? Ujian Nasional hanya menjadi salah satu indikator bukan penentu segalanya untukmu.

Kegiatan dari sekolah yang sering menggembleng siswanya untuk belajar ketika menjelang UN. Memangnya kebutuhan belajar itu hanya menjelang UN? Kenapa harus ada doa bersama ketika hanya menjelang UN? Kenapa tidak dilaksanakan doa bersama setiap harinya jikalau berdoa itu memang dianggap “baik”. Apakah siswa akan berdosa setelah UN atau mungkin memang disarankan melakukan perbuatan dosa (berbuat curang).

Itu beberapa pertanyaan yang selalu menghantui pemikiranku dari banyaknya pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Posisiku yang pernah menjadi bagian didalamnya merasa agak aneh tapi ada dan berlebihan atau bahasa tren kekiniannya “alay” dari berbagai kegiatan sekolah yang seharusnya tidak diperlukan menjelang UN. Kenapa hal-hal semacam itu selalu dilaksanakan dan dianggap penting dari sebagian besar pihak. Aku merasa hal-hal tersebut tidak perlu dilaksanakan yang hanya menjadi wasting time. Dengan kata lain, adanya kegiatan tersebut siswa justru kehilangan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk menambah ilmunya, bahkan tidak sedikit pihak sekolah kehilangan beberapa dana untuk mengundang pihak luar.

Dari pengalamanku, Ujian Nasional setiap sekolah harus dijaga oleh polisi. Memangnya siswa akan melakukan tindak kriminal dalam pelaksanaan UN di sekolahnya? Sekali lagi ini memboroskan anggaran pemerintah. Pada waktu itu, polisi terus berkeliaran di lingkungan sekolahku yang bisa jadi menurunkan mental siswa di dalamnya. Seolah-olah tanggung jawab polisi pada waktu itu hanya mengamankan jalannya UN supaya lancar, padahal tugas mereka banyak, harus menjaga keamanan seluruh masyarakat di lingkungannya. Siswa jadi membayangkan jika melakukan perbuatan curang akan diseret di meja hijau, bayangan itu yang dulu sempat menjadi pemikirian sempitku.

Walaupun begitu, ada lagi permasalahan yang datangnya dari pemerintah yang dari tahun ke tahun selalu terjadi yaitu kebocoran soal. Entah kenapa selalu terjadi kebocoran soal di setiap daerah padahal peredaran soal di berbagai daerah selalu didampingin oleh puluhan polisi. Lagi-lagi pemikiran sempit seseorang dengan adanya polisi semua masalah menjadi beres terbesit dipikiranku. Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? Kenapa pendidikan kita selalu dinilai rendah di mata negara lain, padahal kucuran dana yang dilakukan dalam pelaksanaan UN tidak sedikit dengan cakupan wilayah yang sangat luas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *