Joshua Wong, Scholarism, dan Kisah Pergerakan Mahasiswa di Hongkong 2014

Oleh: Hardian Relly Prabowo Divisi Riset dan Kajian Strategis

Putih, kurus kerempeng, berkacamata, dan berambut poni, biasanya kalau kita liat dalam film atau sinetron, maka karakter ini cocok buat pemeran anak culun dan pemalu atau mungkin saja kamu teringat dengan sosok Nobita di kartun Doraemon dan pasti tau lah dia karakternya seperti apa. Namun, tampaknya anggapan tersebut harus dihilangkan, selain memang tidak semua orang yang berciri khas seperti itu juga mempunyai sifat seperti itu, ada seorang pemuda yang berciri fisik layaknya anak culun tapi ternyata memiliki sifat yang tidak diduga sama sekali. Anak itu bernama Joshua Wong

Anak ini seumuran dengan penulis, kira-kira 16 hari lebih muda dibandingkan dengan penulis yang artinya baru berusia 18 tahun. Namun, siapa kira anak muda seperti dia telah menjadi otak dari aksi pro demokrasi Hongkong dan gerak-geriknya diwaspadai oleh pemerintah dan pihak keamanan. Joshua bersama kawanya, Ivan Lam mendirikan sebuah organisasi aktivis Hongkong yang dikenal dengan nama Scholarism. Gerakan yang dilakukan Joshua Wong dan Scholarism telah dimulai sejak Joshua berusia 15 tahun dan memimpin sebuah gerakan untuk menolak sistem pendidikan nasional yang mengharusknan pelajar Hongkong menumbuhkan keterikatan perasaan emosional dengan Republik Rakyat Tiongkok. Scholarism ini didirikan pada saat pendiri-pendirinya masih duduk di sekolah menengah pada tanggal 29 Mei 2011. Pada aksi awal mereka yang menolak sistem pendidikan yang terkesan harus mendewakan Republik Rakyat Tiongkok berhasil menarik massa hingga 120.000 orang yang terdiri dari pelajar dan masyarakat.

Pada tahun 2014, Scholarism kembali membuat sebuah gerakan. Mereka menuntut adanya pemilu dan demokrasi yang seutuhnya di Hongkong, mengingat dalam melakukan pemilihan kepala eksekutif dan Dewan Legislatif, Hongkong masih banyak dipengaruhi oleh negeri Tirai bambu. Kekecewaan mereka berawal dari keputusan Komite Kongres Rakyat Tiongkok yang memutuskan bahwa pemilihan harus dijalankan setelah adanya calon-calon yang disetujui oleh sebuah komite yang beranggotakan orang-orang dari Beijing. Singkat cerita, sebuah organisasi aktivis yang bernama “Occupy Central with Love and Peace” yang memprotes keputusan tersebut segera merencanakan untuk melakukan aksi pada 1 Oktober 2014. Rencana tersebut dianggap terlalu lama ditambah dengan kebimbangan internal kelompok tersebut, pada akhirnya mahasiswa lah yang akan pertama kali bergerak lebih awal. Dengan berani, Hongkong Federation of Student (HKFS) atau semacam BEM SI kalau di Indonesia, memutuskan untuk melakukan aksi pemogokan bagi seluruh mahasiswa dari 25 universitas dan sejumlah sekolah selama seminggu pada tanggal 22 September 2014 dan mulai untuk melakukan aksi turun ke jalan.

Aksi yang dilakukan menimbulkan sebuah istilah bagi pergerakan mereka, yaitu Gerakan Payung. Simbol payung diambil dari kebiasaan para demonstran yang melakukan aksi selalu membawa payung baik cuaca pana maupun hujan. aksi yang menuntut diberlakukannya “universal sufferage” yaitu diikutsertakannya rakyat dalam mencalonkan calon pemimpin mereka dan memilih secara langsung tanpa harus didahului oleh intervensi dari Republik Rakyat Tiongkok dan selama ini pemilihan lebih didominasi dilakukan oleh komisi yang terdiri orang-orang pebisnis dan pro-Beijing. Demonstran juga ingin berdialog dengan ketua Eksekutif di Hongkong, CY Leung dan berencana untuk mengokupasi Civil Square yang ada di sebelah kantor pemerintahan. Usaha para demonstran gagal dan akhirnya Joshua Wong yang mengorganisir pergerakan tersebut ditangkap namun dibebaskan kembali karena tidak ada bukti yang cukup.

Dengan aksi kekerasan yang digunakan oleh pihak keamanan justru membuat para demonstran semakin merapatkan barisan dan konsisten terhadap apa yang diperjuangkan. Jumlah demonstran juga semakin bertambah. Aksi ini pada akhirnya mendapatkan dukungan dari HK Confederation of Trade Unions dan HK Professional Teachers’ Union dan memutuskan untuk melakukan pemogokan dan mengikuti aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Setelah kejadian tersebut, HKFS memberikan ancaman untuk mengorganisir aksi yang lebih besar lagi kalau pemerintah Hongkong tidak menyanggupi empat tuntutan mereka, yaitu membuka kembali jalan Tim Mei dan Civic Square, Ketua Eksekutif Leaung Chun-Ying harus mundur, Komite Kongres Rakyat Nasional harus membatalkan pengumuman 31 Agustus mereka, dan ikut sertakan nominasi publik dalam pemilu. Dengan keterlibatan para buruh dalam demonstrasi ini maka kepemimpinan demonstrasi dipengang oleh kaum buruh. Hadirnya kaum buruh disini menimbulkan kekuatan yang luar biasa. Kaum buruh telah berpengalaman dalam berbagai aksi-aksi terdahulu untuk menuntut hak-hak mereka. Kaum buruh juga yang menjadi hal yang paling ditakuti oleh pemerintah dan kaum kapitalis Hongkong, bukanya kaum pelajar atau masyarakat biasa lainya. Gerakan ini masih terus berjalan dan demokrasi atau pemilu yang diharapkan oleh mahasiswa menjadi perjuangan yang luar biasa untuk menghentikan pengaruh dari pihak Republik Rakyat Tiongkok kepada sistem yang ada di Hongkong.

Pada akhirnya, gerakan yang dipelopori oleh Joshua Wong dkk ini belum membuahkan hasil. Perbedaan pendapat dan strategi serta fragmentasi menjadi masalah dalam internal gerakan dan pimpinan-pimpinan gerakan yang menjadi kurang tegas dalam pengambilan keputusan. Aksi pemogokan yang dilakukan juga tidak berhasil sepenuhnya. Namun, dari peristiwa ini setidaknya ada manfaat yang dapat diambil. Sekarang masyarakat Hongkong bisa lebih bersikap kritis terhadap pemerintahan yang berjalan dan menjadi pendidikan politik yang baik. Selain itu, setelah terjadinya gerakan ini, kemungkinan besar akan kembali muncul gerakan-gerakan lainnya di kemudian hari dari mahasiswa yang dapat berkoalisi dengan buruh dan masyarakat umumnya.

 

Tulisan ini juga dapat dibaca di: http://lnk.splashurl.com/3ZSn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *